Wednesday, March 16, 2016

Tanya Jawab tentang Keberadaan ALLAH
Soalan: seseorang berkata: Allah duduk atas Arasy tetapi tidak seperti duduk kita [manusia], maka apakah hukumnya???
Jawab: Orang yang berkata itu TELAH KUFUR, wal`iyazubillah,
Perkataannya TIDAK SEPERTI DUDUKNYA KITA sama sekali tidak memberi manfaat kepadanya kerana dia telah mendustakan al-Quran, dia telah mendustakan firman Allah ta`ala:
"لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ".
“Tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya dalam apa jua bentuk sekalipun”. (Surah asy-Syura: 11)
Sesungguhnya al-Imam ath-Thahawi radhiyallahu`anhu telah berkata:
"وَمَنْ وَصَفَ اللهَ بِمَعْنًى مِنْ مَعَانِي الْبَشَر فَقَدْ كَفَرَ".
“Dan barangsiapa yang menyifatkan Allah dengan satu sifat daripada sifat-sifat manusia, maka sungguh dia telah kufur”.
Iaitu orang yang menyifatkan Allah dengan satu sifat daripada sifat-sifat manusia, maka dia adalah seorang yang kafir.
Sedangkan sifat duduk itu tidak tersembunyi daripada kamu bahawa ia adalah sifat manusia, dan orang yang menyifatkan Allah dengan sifat duduk di atas Arasy, maka dia telah menjadikan Allah itu memiliki saiz/ukuran yang tertentu kerana Arasy itu mempunyai saiz/ukuran kerana ia adalah makhluk sekalipun saiz/ukuran tersebut tidak diketahui melainkan Allah ta`ala sahaja.
Dan al-Hafiz Abu Nu`aim telah meriwayatkan sesungguhnya `Ali bin Abi Thalib radiyallahu`anhu telah berkata:
"مَنْ زَعَمَ أَنَّ إِلَـــهَنَا مَـحْدُوْدٌ فَقَدْ جَهِلَ الْـخَالِقَ الْمَعْبُوْدَ".
“Barangsiapa yang mendakwa bahawasanya Tuhan kami mempunyai saiz/ukuran tertentu, maka sungguh dia seorang yang jahil tentang Tuhan yang disembah”.
Dan orang yang berkata Allah itu duduk, maka dia telah menjadikan Allah ta`ala itu memiliki saiz/ukuran.
Sesungguhnya al-Imam ar-Rifa`ie radiyallahu`anhu telah berkata:
"صُوْنُوْا عَقَائِدَكُمْ مِنَ التَّمَسُّكِ بِظَاهِرِ مَا تَشَابَهَ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ أُصُوْلِ الْكُفْرِ".
Maksudnya:
“Hendaklah kalian memelihara aqidah kalian daripada berpegang dengan zahir nas mutasyabihat daripada al-Quran dan al-Sunnah kerana sesungguhnya yang demikian itu daripada punca kekufuran”.
Maknanya berpegang dengan zahir nas mutasyabihat daripada al-Quran dan al-Hadis seperti ayat:
"الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى".
Maksudnya:
“Allah istawa ke atas Arasy”
Telah menyebabkan ramai dalam kalangan manusia jatuh kelembah kekufuran [kerana berpegang dengan zahir ayat di atas]. Dan ketahuilah bahawasanya tidak harus mentafsirkan al-Quran dengan tafsir yang tidak selari dengan bahasa Arab, maka al-Wajh, Yadd dan al-`Ain warid di dalam al-Quran al-Karim dengan makna jisim bagi makhluk dan dengan makna selain daripada jisim. Dan tidak pernah warid di dalam al-Quran penggunaan sifat duduk keatas Allah, maka tidak harus dikatakan bahawasanya Allah ta`ala duduk di atas Arasy tidak seperti duduknya kita kerana sifat duduk tidak akan berlaku melainkan kepada jisim-jisim.
Maka orang yang seperti ini hendaklah dia memperbaiki dirinya dan hendaklah dia mengubah i`tiqadnya dan hendaklah dia kembali kepada Islam dengan mengucapkan dua kalimah syahadah.
Via Ibnu Syafie


Tuesday, March 15, 2016

Seklumit Tentang Muhammadiyyah


Secara ringkas kami katakan bahwa, KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyyah pada 18 November 1912/8 Dzull Hijjah 1330) dengan KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU pada 31 Januari 1926/16 Rajab 1344) adalah satu sumber guru dengan amaliah ubudiyah yang sama. Bahkan keduanya pun sama-sama satu nasab dari Maulana ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri).Berikut kami kutip kembali ringkasan “Kitab Fiqih Muhammadiyyah”, penerbit Muhammadiyyah Bagian Taman Poestaka Jogjakarta, jilid III, diterbitkan tahun 1343 H/1925 M, dimana hal ini membuktikan bahwa amaliah kedua ulama besardi atas tidak berbeda:1.Niat shalat memakai bacaan lafadz: “Ushalli Fardha...” (halaman 25).2.Setelah takbir membaca: “Allahu Akbar Kabiran Walhamdulillahi Katsira...” (halaman 25).3.Membaca surat al-Fatihah memakai bacaan: “Bismillahirrahmanirrahim” (halaman 26).4.Setiap shalat Shubuh membaca doa Qunut (halaman 27).5.Membaca shalawat dengan memakai kata: “Sayyidina”, baik di luar maupun dalam shalat (halaman 29).6.Setelah shalat disunnahkan membaca wiridan: “Istighfar, Allahumma Antassalam, Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, Allahu Akbar 33x” (halaman 40-42).7.Shalat Tarawih 20 rakaat, tiap 2 rakaat 1 salam (halaman 49-50).8.Tentang shalat & khutbah Jum’at juga sama dengan amaliah NU (halaman 57-60).KH. Ahmad Dahlan sebelum menunaikan ibadah haji ke tanah suci bernama Muhammad Darwis. Seusai menunaikan ibadah haji, nama beliau diganti dengan Ahmad Dahlan oleh salah satu gurunya, as-Sayyid Abubakar Syatha ad-Dimyathi, ulama besar yang bermadzhab Syafi’i.Jauh sebelum menunaikan ibadah haji, dan belajar mendalami ilmu agama, KH. Ahmad Dahlan telah belajar agama kepada asy-Syaikh KH. Shaleh Darat Semarang. KH. Shaleh Darat adalah ulama besar yang telah bertahun-tahun belajar dan mengajar di Masjidil Haram Makkah.Di pesantren milik KH. Murtadha (sang mertua), KH. Shaleh Darat mengajar santri-santrinya ilmu agama, seperti kitab al-Hikam, al-Munjiyyat karya beliau sendiri, Lathaif ath-Thaharah, serta beragam ilmu agama lainnya. Di pesantren ini, Mohammad Darwis ditemukan dengan Hasyim Asy’ari. Keduanya sama-sama mendalami ilmu agama dari ulama besar Syaikh Shaleh Darat.Waktu itu, Muhammad Darwis berusia 16 tahun, sementara Hasyim Asy’ari berusia 14 tahun. Keduanya tinggal satu kamar di pesantren yang dipimpin oleh Syaikh Shaleh Darat Semarang tersebut. Sekitar 2 tahunan kedua santri tersebut hidup bersama di kamar yang sama, pesantren yang sama dan guru yang sama.Dalam keseharian, Muhammad Darwis memanggil Hasyim Asy’ari dengan panggilan “Adik Hasyim”. Sementara Hasyim Asy’ari memanggil Muhammad Darwis dengan panggilan “Mas atau Kang Darwis”.Selepas nyantri di pesantren Syaikh Shaleh Darat, keduanya mendalami ilmu agama di Makkah, dimana sang guru pernah menimba ilmu bertahun-tahun lamanya di Tanah Suci itu. Tentu saja, sang guru sudah membekali akidah dan ilmu fikih yang cukup. Sekaligus telah memberikan referensi ulama-ulama mana yang harus didatangi dan diserap ilmunya selama di Makkah.Puluhan ulama-ulama Makkah waktu itu berdarah Nusantara. Praktek ibadah waktu itu seperti wiridan, tahlilan, manaqiban, maulidan dan lainnya sudah menjadi bagian dari kehidupan ulama-ulama Nusantara. Hampir semua karya-karya Syaikh Muhammad Yasin al-Faddani, Syaikh Muhammad Mahfudz at-Turmusi dan Syaikh Khaathib as-Sambasi menuliskan tentang madzhab Syafi’i dan Asy’ariyyah sebagai akidahnya. Tentu saja, itu pula yang diajarkan kepada murid-muridnya, seperti KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, Syaikh Abdul Qadir Mandailing dan selainnya.Seusai pulang dari Makkah, masing-masing mengamalkan ilmu yang telah diperoleh dari guru-gurunya di Makkah. Muhammad Darwis yang telah diubah namanya menjadi Ahmad Dahlan mendirikan persarikatan Muhammadiyyah. Sedangkan Hasyim Asy’ari mendirikan NU (Nahdlatul Ulama). Begitulah persaudaraan sejati yang dibangun sejak menjadi santri Syaikh Shaleh Darat hingga menjadi santri di Tanah Suci Makkah. Keduanya juga membuktikan, kalau dirinya tidak ada perbedaan di dalam urusan akidah dan madzhabnya.Saat itu di Makkah memang mayoritas bermadzhab Syafi’i dan berakidahkan Asy’ari. Wajar, jika praktek ibadah sehari-hari KH. Ahmad Dahlan persis dengan guru-gurunya di Tanah Suci. Seperti yang sudah dikutipkan di awal tulisan, semisal shalat Shubuh KH. Ahmad Dahan tetap menggunakan Qunut, dan tidak pernah berpendapat bahwa Qunut sholat subuh Nabi Muhammad Saw adalah Qunut Nazilah. Karena beliau sangat memahami ilmu hadits dan juga memahami ilmu fikih.Begitupula Tarawihnya, KH. AhmadDahlan praktek shalat Tarawihnya 20 rakaat. Penduduk Makkah sejak berabad-abad lamanya, sejak masa Khalifah Umar bin Khattab Ra., telah menjalankan Tarawih 20 rakaat dengan 3 witir, sehingga sekarang. Jumlah ini telah disepakati oleh sahabat-sahabat Nabi Saw. Bagi penduduk Makkah, Tarawih 20 rakaat merupakan ijma’ (konsensus kesepakatan) para sahabat Nabi Saw.Sedangkan penduduk Madinah melaksanakan Tarawih dengan 36 rakaat. Penduduk Makkah setiap pelaksanaan Tarawih 2 kali salaman, semua beristirahat. Padawaktu istirahat, mereka mengisi dengan thawaf sunnah. Nyaris pelaksanaan shalat Tarawih hingga malam, bahkan menjelang Shubuh. Di sela-sela Tarawih itulah keuntungan penduduk Makkah, karena bisa menambah pahala ibadah dengan thawaf. Maka bagi penduduk Madinah untuk mengimbangi pahala denganyang di Makkah, mereka melaksanakan Tarawih dengan jumlah lebih banyak.Jadi, baik KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari tidak pernah ada perbedaan di dalam pelaksanaan ubudiyah. Ketua PP. Muhammdiyah, Yunahar Ilyas pernah menuturkan: “KH. Ahmad Dahlan pada masa hidupnya banyak menganut fiqh madzhab Syafi’i, termasuk mengamalkan Qunut dalam shalat Shubuh dan shalat Tarawih 23 rakaat. Namun, setelah berdirinya Majelis Tarjih pada masa kepemimpinan KH. Mas Manshur, terjadilah revisi-revisi, termasuk keluarnya PutusanTarjih yang menuntunkan tidak dipraktekkannya doa Qunut di dalam shalat Shubuh dan jumlah rakaat shalat Tarawih yang sebelas rakaat.”Sedangkan jawaban enteng yang dikemukan oleh dewan tarjih saat ditanyakan: “Kenapa ubudiyyah (praktek ibadah) Muhammadiyyah yang dulu dengan sekarang berbeda?” Alasan mereka adalah karena “Muhammadiyyah bukan Dahlaniyyah”.Masihkah diantara kita yang gemarmencela dan mengata-ngatai amaliah-amaliah Ahlussunnah walJama’ah Nahdlatul Ulama sebagai amalan bid’ah, musyrik dan sesat?.

Saturday, March 5, 2016


Tajalli Dzat Allah
Pada bagian ini akan diterangkan tentang Tajalli zat, hendaklah anda kethui, bahwa Tajalli Zat itu atas tujuh martabat (Tingkat “Tanazzul” (turun) dari Hidratus-Sarij yaitu Hidrat Zat semata-mata yang pengertiannya tidak menyangkut sifat dan asma atau dlam pengertian lain, lepas dari pada isyarat.
Arif Billah Sayyid Abdullah bin Ibrahim Al-Mirghani q.s dalam Kitab beliau Tuhfatul Mursalah menyebutkan : “Kunhi Zat Allah s.w.t. tidak dapat digambarkan oleh akal dan indera (hissi) yang lima, tidak terbatas (haq) dengan ukuran akal dan pancaindra maka uaha yang demikian termasuk usha yang mustahil, Hal itu hanya mungkin dicapai dengan jalan kasyaf.
Penjelasan Martabat Tanazzul :
1.     Martabat Ahadiyat :Martabat (tingkat) ini dinamakan pula dengan “martabat Kunhi Zat” yaitu keadaan Zat semata-mata, dari sini nyata apa yang dinamakan sifat dan asma. Tidak ada martabat lain yang lebih atas dari pada ini. Semua martabat yang berikut ini, bersumber dari martabat ini.
2.     Martabat Wahdah : Tingkat ini dalah tingkat sifat secara keseluruhan (ijmal) dengan segala nama, disinilah hakekat Nabi Muhammad s.a.w, yaitu sebagai asal jadi dari segala yang jadi, hawiyatul-alam atau hakekat alam. Segala apapun adalah dari Nur Muhammad s.a.w. sebagaimana sabda Beliau :  “ awwalumaa Khalaqallahu Nuura Naiyyika Yaa Jaabiru Wa Khalaqa Minhul-asyyaa’a Wa Anta Min Tilkal Ayaa’i”
 Artinya : “ Mula-mula yang dijadikan adalh Nur Nabimu Ya Jabir, Dan Allah jadikan dari nur itu, segala sesuatu ini. Dan engkau Hai Jabir termasuk pada sesuatu itu”
 Pada Hadist yang lain Nabi bersabda : “ Ana Minallaahi Wal Mu’minuuna Minni”
Artinya : “Aku adalah dari pada Allah, dan orang-orang Mukmin adalah dari padaku”
 Sabda Nabi s.a.w. : “Innallaaha Khalaqa Ruuhannabiyyi Shalallaahu’Alaihi Wasallama Min Dzaatihi Wa Khalaqal Aalama Biasrihi Min Nuuri Muhammadin Shallahu Alaihi Wasallama”
Artinya : Sesungguhnya Allah ciptakan Roh Nabi Muhammad dari Zat-Nya, lalu Allah ciptakan alam dengan rahasiaNya dari pada Nur mUhammad s.a.w “

Selain itu ada juga suatu riwayat dari Abdurrazaq r.a. yang diterimanya dari pada Jabir r.a. Jabir pernah bertanya kepada Rasulullah s.a.w. “Ya Rasulullah beritahukanlah kepadaku, apakah yang mula-mula sekali Allah jadikan?”
Rasulullah menjawab :  “ Yaa Jaabiru Innallaaha Khalaqa qablal Asy-yaa’i Nura Nabiyyika Min Nuurihi”
Artinya : Sesungguhnya Allah ciptakan sebelum adanya sesuatu, adalah Nur Nabimu dari pada Nur-Nya.”
 Dari Hadist-hadist ini jelaslah bahwa kejadian Nur Muhammad s.a.w.adalah Nur-Zat-Nya.
Allah berikan nama dengan Nur-Nya sebagai tercamtum di dalam Al-Quraan yang mulia :
“ Laqad Ja’Akum Minallahi Nurun”
Artinya : Sesungguhnya telah Allah datangkan untuk kamu Nur dari pada Allah. Yaitu Nur Muhammad s.a.w.
 Sebagaimana kita ketahui bahwa Nur adalah salah satu nama Allah s.w.t. Diambil nama itu untuk Nabi kita karena tidak lain daripadaNya jua dalam arti Hakiki.
Untuk memudahkan pengertian kita misalkan “matahari” dengan “cahaya matahari”. Cahaya matahari menunjukkan tentang adanya si matahari, tetapi cahayanya itu sendiri sebenarnya bukanlah matahari pada rupa/bentuknya (surah) namun cahaya matahari itu dapat kita sebutkan matahari sepanjang gambaran arti saja. (itibar ma’na). Karena bilamana cahayanya tidak ada, kita akan mengatakan tidak ada matahari padahal matahari itu bukanlah cahaya.
Berhubung hal ini adalah suatu “kebenaran (haq)” maka Allahpun memberikan pula nama yang lain kepada beliau dengan nama Al-Haq yang nama ini adalah juga salah satu dari nama-nama Allah.s.w.t. sebagaimana firmanNya: “Yaa Ayyuhan-Nassu Qad Ja’akumul Haqqu Min (R) Rabbikum”
Artinya : “Wahai manusia, telah datang Al-Haq dari pada Tuhanmu, yaitu Nabi Muhammad s.a.w.”
1.     Martabat Wahidiyah Pada martabat ini nyata pula sifat dan asma itu dalam arti “munfashil” (terurai). Pada martabat wahdah nyata sifat dan asma dalam arti ijmal maka pada martabat ini adalah arti munfashil. Dari sini pula lahirnya Kalam Qadim (ucapan Allah Yang Maha Sedia) yaitu “annahu Anallahu” artinya, sesungguhnya Akulah Allah. Adanya tuturan kata (khitob) dengan “kalam qadim” itu berarti ada yang “dituturi” (sasaran pembicaraan) yaitu alam sifat dan asma.
Ketiga tiga martabat yang tersebut itu adalah Qadim. Adapun terjadinya susunan pada tingkat tingkat itu hanya sekedar suatu gambaran semata-mata (amrun ‘ittibary) janganlah hendaknya diartikan seolah olah terdapat tingkat menurut ukuran masa dan ruang atau tempat.
Maka nyata dengan jelas pada alam asma dan alam sifat roh Nabi Muhammad.s.a.w. menyeluruh pada hidlrat wahda dan teruarai pada hidlrat wahidiyah. Pada alam syahadah/alam nyata ini, diartikan awal dari segala yang jadi (tercipta) awal dari segala mumkinat yang datang dari hidlrat Mahabbah sebagai yang tersebut dalam Hadist Rasulullah s.a.w.,suatu hadist Qudsi (Firman Allah S.w.t.) yang berbunyi : “ Kuntu Kanzan Mahkfiyyan, Fa Ahbabtu An’Urufa, Fa Khalaqtul Khalqa Liya’Rifani”
Artinya : “Aku (Allah) adalah suatu perbendaharaan yang tersembunyi, lalu Aku berkeinginan dikenal maka Kujadikanlah mahkluk (Muhammad s.a.w.) agar dia kenal atau ma’rifat kepadaKu”
Lalu kemudian zahirlah Nabi Muhammad s.a.w. di alam syahadah atau alam nyata ini, yang dari padanya jua jd segala isi alam ini.
Rasulullahpun bersabda : “ Ana Abul Arwaahhi Wa Aadamu Abul Basyari”
Artinya : “ Akulah bapak atu sumber dari segala roh, dan Adam bapak atau sumber segala tubuh (basyariat).”

Kata Syekh Abdul Ghani An’Nablusi q.s  di dalam Syarah Fushush “ Roh segala jasad itu adalah satu, sedang yang berbilang ini hanyalah nafas. Maka nafas itulah yang mengalami mati, namun roh tidak akan mati karena berdirinya roh itu adalah dengan Haq Ta’ala pada semua keadaan ”.
Nabi Muhammad s.a.w. sebagai uraian yang terdahulu adalah jelas sebagai bapak/sumber dari segala sesuatu ini, serta sumber dari segala hayat kehidupan.
Berarti dengan itu jelas pulalah bahwa “mesrahlah Nur Muhammad pada segala sesuatu ini, laksana mesranya air pada tumbuh tumbuhan. Pafham fainnahu muhimmun (fahamilah,sungguh hal ini sangat penting).
Syekh Muhammad ibnu Abdul Karim As-Saman r.a. berkata dalam susunan Sholawat pada kitab Minnahul Muhammadiya : “Alifudz-dzatis-sariyyi Sirruha Fii Kulli Dzarratin. Ha’un Haayatul’alami Alladzii Minhu Mabda’uhu Wa Maqarruhu”
Artinya : Alif Zat, adalah mesra rahasianya pada segala zarrah, dan Ha adalah Hayatul alam ( kehidupan alam semesta ) dari situlah permulaan dan menetapnya”
Alif dan Ha yang dimaksud ini di itibar dari huruf huruf yang tertera pada nama Nabi Muhammad s.a.w. dengan nama yang lebih dikenal dilangit ialah Ahmad.


Monday, February 29, 2016

Baca al-Quran di Kuburan

Baca al-Quran di Kuburan
Pertanyaan:
Kuburan bukanlah tempat beribadah, mengapa banyak umat Islam mengaji di kuburan? Abu Hafidzi, Sby.
Jawaban:
Membaca al-Quran di kuburan bukanlah sesuatu yang bid'ah atau bahkan sesuatu yang haram. Hal ini berdasarkan hadis di bawah ini:
حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي أُسَامَةَ الْحَلَبِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي ح وَحَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ دُحَيْمٍ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي ح وَحَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْحَاقَ التُّسْتَرِيُّ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ بَحْرٍ قَالُوْا حَدَّثَنَا مُبَشِّرُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْعَلاَءِ بْنِ اللَّجْلاَجِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ قَالَ لِي أَبِي يَا بَنِيَّ إِذَا أَنَا مُتُّ فَأَلْحِدْنِي فَإِذَا وَضَعْتَنِي فِي لَحْدِي فَقُلْ بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ ثُمَّ سِنَّ عَلَيَّ الثَّرَى سِنًّا ثُمَّ اقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِي بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ ذَلِكَ (رواه الطبراني في الكبير رقم 15833)
"Dari Abdurrahman bin 'Ala' dari bapaknya, bahwa: Bapakku berkata kepadaku: Jika aku mati, maka buatkan liang lahat untukku. Setelah engkau masukkan aku ke liang lahat, bacalah: Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah. Kemudian ratakanlah tanah kubur perlahan, lalu bacalah di dekat kepalaku permulaan dan penutup surat al-Baqarah. Sebab aku mendengar Rasulullah bersabda demikian" (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 15833)
Al-Hafidz al-Haitsami berkata:
وَرِجَالُهُ مُوَثَّقُوْنَ (مجمع الزوائد ومنبع الفوائد للحافظ الهيثمي 3/66)
"Perawinya dinilai sebagai orang-orang terpercaya" (Majma' al-Zawaid III/66)
Begitu pula dengan riwayat hadis berikut ini:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ وَلْيُقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ بِخَاتِمَةِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِي قَبْرِهِ (رواه الطبراني في الكبير رقم 13613 والبيهقي في الشعب رقم 9294 وتاريخ يحي بن معين 4 / 449)
"Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda: Jika diantara kalian ada yang meninggal, maka janganlah diakhirkan, segeralah dimakam-kan. Dan hendaklah di dekat kepalanya dibacakan pembuka al-Quran (Surat al-Fatihah) dan dekat kakinya dengan penutup surat al-Baqarah di kuburnya" (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 13613, al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman No 9294, dan Tarikh Yahya bin Maid 4/449)
Al-Hafidz Ibnu Hajar memberi penilaian pada hadis tersebut:
فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ أَخْرَجَهُ الطَّبْرَانِي بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ (فتح الباري لابن حجر 3 / 184)
"HR al-Thabrani dengan sanad yang hasan" (Fath al-Bari III/184)
Dalam kedua hadis ini Rasulullah Saw tidak menentukan waktu pembacaan al-Quran saat pemakaman saja. Dan kalaulah membaca al-Quran di kuburan dilarang, maka sudah pasti Rasulullah tidak akan memperbolehkannya dan hanya mengkhususkan ketika pemakaman saja. Dan sudah barang tentu hal semacam ini tidak boleh terjadi sebagaimana dalam kaidah fikih:
اِنَّ الْبَيَانَ لاَ يُؤَخَّرُ عَنْ وَقْتِ الْحَاجَةِ
"Penjelasan tentang hukum tidak boleh ditunda di saat penjelasan itu dibutuhkan" (al-Talkhish fi Ushul al-Fiqh, II/208)
Lalu dari mana pihak yang anti tahlil melarang membaca al-Quran di kuburan, padahal Rasulullah sendiri tidak menyatakan yang demikian itu dalam hadis-hadisnya?
Hadis di atas juga diperkuat oleh amaliyah sahabat Abdullah bin Umar bin Khattab yang merupakan salah satu sahabat Rasulullah yang meriwayatkan ribuan hadis setelah Abu Hurairah dan Ibnu Abbas:
أَخْبَرَنَا أَبُوْ عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ حَدَّثَنَا أَبُوْ الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوْبَ حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ سَأَلْتُ يَحْيَى بْنَ مَعِيْنٍ عَنِ الْقِرَاءَةِ عِنْدَ الْقَبْرِ فَقَالَ حَدَّثَنَا مُبَشِّرُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ الْحَلَبِىُّ عَنْ عَبْدِ الرَّحَمْنِ بْنِ الْعَلاَءَ بْنِ اللَّجْلاَجِ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّهُ قَالَ لِبَنِيْهِ إِذَا أَدْخَلْتُمُوْنِى قَبْرِى فَضَعُوْنِى فِى اللَّحْدِ وَقُوْلُوْا بِاسْمِ اللهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ وَسُنُّوْا عَلَىَّ التُّرَابَ سَنًّا وَاقْرَءُوْا عِنْدَ رَأْسِى أَوَّلَ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتَهَا فَإِنِّى رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَسْتَحِبُّ ذَلِكَ (رواه البيهقي في السنن الكبرى رقم 7319 والدعوات الكبير رقم 638)
"Diriwayatkan dari Abdurrahman bin 'Ala' bahwa bapaknya berkata pada anak-anaknya: Jika kalian telah memasukkan aku ke dalam kubur, maka letakkan aku di liang lahat. Dan ucapkanlah: Dengan nama Allah dan atas sunnah Rasulullah Saw. Dan ratakanlah tanah secara perlahan, lalu bacalah di dekat kepalaku permulaan dan penutup surat al-Baqarah. Sebab aku melihat Ibnu Umar menganjurkan demikian" (Riwayat al-Baihaqi dalam al-Kabir No 7319 dan al-Da'awat No 638)
Ibnu Jum'ah berkata:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ اسْتَحَبَّ أَنْ يُقْرَأَ عَلَى الْقَبْرِ بَعْدَ الدَّفْنِ أَوَّلَ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا رَوَاهُ الْبَيْهَقِيّ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ (خلاصة الأحكام في مهمات السنن وقواعد الإسلام لابن جمعة الحزامي الشافعي 2 / 1028)
"Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa beliau menganjurkan membaca permulaan dan penutup surat al-Baqarah di atas kuburan setelah dimakamkan. Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang hasan" (Khulashat al-Ahkam II/1028)
Atsar ini juga disahihkan oleh madzhab Hanbali:
وَفِي الْمَبْدَعِ مِنْ كُتُبِ الْحَنَابِلَةِ وَقَدْ صَحَّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ أَوْصَى إِذَا دُفِنَ أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَهُ بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا. اهـ مِنْ هِدَايَةِ الرَّاغِبِ (فتاوى حسنين مخلوف 1 / 444)
"Di dalam kitab al-Mabda' dari kalangan Hanbali disebutkan: Sungguh telah sahih dari Ibnu Umar bahwa beliau berwasiat setelah dimakamkan untuk dibacakan pembukaan surat al-Baqarah dan penutupnya di dekat kuburnya. Dikutip dari kitab Hidayat al-Raghib" (Fatawa Hasanain Makhluf 1/444)
Kendatipun Ibnu Taimiyah dikenal sebagai ulama yang tidak menganjurkan membaca al-Quran di kuburan, tetapi ia tidak menampik dengan argumen riwayat Ibnu Umar diatas sebagai dalil diperbolehkannya membaca al-Quran di kuburan:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ وَصَّى أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَ دَفْنِهِ بِفَوَاتِحِ الْبَقَرَةِ وَخَوَاتِمِهَا وَالرُّخْصَةُ إمَّا مُطْلَقًا وَإِمَّا حَالَ الدَّفْنِ خَاصَّةً (جامع المسائل لابن تيمية 3 / 132)
"Dari Ibnu Umar bahwa beliau berwasiat setelah dimakamkan untuk dibacakan pembukaan surat al-Baqarah dan penutupnya. Dispensasi ini bisa jadi secara mutlak (boleh baca al-Quran di kuburan kapan saja), dan bisa jadi khusus ketika pemakaman saja" 
(Ibnu Taimiyah, Jami' al-Masail III/132)
Dalil lainnya adalah menggunakan Qiyas Aulawi:
قُلْتُ وَقَدِ اسْتَدَلَّ بَعْضُ عُلَمَائِنَا عَلَى قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ عَلَى الْقَبْرِ بِحَدِيْثِ الْعَسِيْبِ الرُّطَبِ الَّذِي شَقَّهُ النَّبِيُّ بِاثْنَيْنِ ثُمَّ غَرَسَ عَلَى هَذَا وَاحِدًا وَعَلَى هَذَا وَاحِدًا ثُمَّ قَالَ لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا خَرَّجَهُ الْبُخَارِي (218) وَمُسْلِمٌ (703) ... قَالُوْا وَيُسْتَفَادُ مِنْ هَذَا غَرْسُ اْلأَشْجَارِ وَقِرَاءَةُ اْلقُرْآنِ عَلَى الْقُبُوْرِ وَإِذَا خُفِّفَ عَنْهُمْ بِاْلأَشْجَارِ فَكَيْفَ بِقِرَاءَةِ الرَّجُلِ الْمُؤْمِنِ الْقُرْآنَ؟ (التذكرة للقرطبي 1 / 84 وشرح الصدور للحافظ جلال الدين السيوطي 305)
"Saya (al-Qurthubi) berkata: Sebagian ulama kalangan kita menggali dalil membaca al-Quran di kubur dengan hadis tentang pohon kurma yang masih basah, yang dibelah oleh Rasulullah Saw menjadi dua, kemudian masing-masing ditanam di atas dua kuburan. Rasulullah Saw bersabda: 'Semoga pohon ini meringankan siksa kedua (mayit), selama belum mengering' (HR al-Bukhari No 218 dan Muslim No 703). Ulama berkata: Diambil faedah dari hadis ini mengenai menanam tanaman dan membaca al-Quran di kubur. Jika orang yang meninggal saja mendapat keringanan (siksa) dengan tanaman, lalu bagaimana dengan bacaan al-Quran dari orang yang beriman?” (al-Qurthubi dalam al-Tadzkirah I/84 dan Jalaluddin al-Suyuthi dalam Syarh al-Shudur 305)
Imam Nawawi mengutip kesepakatan ulama Syafi'iyah 
tentang membaca al-Quran di kuburan:
وَيُسْتَحَبُّ (لِلزَّائِرِ) اَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْقُرْآنِ مَا تَيَسَّرَ وَيَدْعُوَ لَهُمْ عَقِبَهَا نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ اْلاَصْحَابُ (المجموع شرح المهذب للشيخ النووي 5 / 311)
"Dan dianjurkan bagi peziarah untuk membaca al-Quran sesuai kemampuannya dan mendoakan ahli kubur setelah membaca al-Quran. Hal ini dijelaskan oleh al-Syafi'i dan disepakati oleh ulama Syafi'iyah" (al-Nawawi, al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab V/311)
Ternyata Ibnu Qoyyim, murid Ibnu Taimiyah, mengklaim bahwa membaca al-Quran di kuburan telah menjadi tradisi bagi para sahabat Anshar di Madinah: 
وَذَكَرَ الْخَلاَّلُ عَنِ الشَّعْبِي قَالَ كَانَتِ اْلأَنْصَارُ إِذَا مَاتَ لَهُمُ الْمَيِّتُ اِخْتَلَفُوْا إِلَى قَبْرِهِ يَقْرَءُوْنَ عِنْدَهُ الْقُرْآنَ (الروح لابن القيم - 1 / 11)
"Al-Khallal mengutip dari al-Sya'bi bahwa jika salah seorang dari sahabat Anshar meninggal, maka mereka bergiliran membaca al-Quran di kuburannya" (al-Ruh, Ibnu Qoyyim, I/11)
Ibnu Qoyyim juga mengutip fatwa Imam Ahmad yang awalnya melarang membaca al-Quran di kuburan kemudian Imam Ahmad meralatnya bahkan menganjurkan hal tersebut:
قَالَ الْخَلاَّلُ وَأَخْبَرَنِي الْحَسَنُ بْنُ أَحْمَدَ الْوَرَّاقُ حَدَّثَنِى عَلِىُّ بْنُ مُوْسَى الْحَدَّادُ وَكَانَ صَدُوْقًا قَالَ كُنْتُ مَعَ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلَ وَمُحَمَّدٍ بْنِ قُدَامَةَ الْجَوْهَرِى فِي جَنَازَةٍ فَلَمَّا دُفِنَ الْمَيِّتُ جَلَسَ رَجُلٌ ضَرِيْرٌ يَقْرَأُ عِنْدَ الْقَبْرِ فَقَالَ لَهُ أَحْمَدُ يَا هَذَا إِنَّ اْلقِرَاءَةَ عِنْدَ الْقَبْرِ بِدْعَةٌ فَلَمَّا خَرَجْنَا مِنَ الْمَقَابِرِ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ قُدَامَةَ ِلأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلَ يَا أَبَا عَبْدِ اللهِ مَا تَقُوْلُ فِي مُبَشِّرٍ الْحَلَبِيّ قَالَ ثِقَةٌ قَالَ كَتَبْتَ عَنْهُ شَيْئًا ؟ قَالَ نَعَمْ فَأَخْبَرَنِي مُبَشِّرٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ اْلعَلاَءِ اللَّجْلاَجِ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّهُ أَوْصَى إِذَا دُفِنَ أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا وَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يُوْصِي بِذَلِكَ فَقَالَ لَهُ أَحْمَدُ فَارْجِعْ وَقُلْ لِلرَّجُلِ يَقْرَأُ (الروح لابن القيم 1 / 10)
"Ali bin Musa al-Haddad (orang yang sangat jujur) berkata: Saya bersama Ahmad bin Hanbal dan Muhammad Ibnu Qudamah al-Jauhari menghadiri pemakaman janazah. Setelah dimakamkan, ada orang laki-laki buta membaca al-Quran di dekat kubur tersebut. Ahmad berkata kepadanya: Wahai saudara! Membaca di dekat kubur adalah bid'ah. Setelah kami keluar dari kuburan, Muhammad ibnu Qudamah bertanya kepada Ahmad bin Hanbal: Wahai Abu Abdillah. Apa penilaianmu tentang Mubasysyir al-Halabi? Ahmad menjawab: Ia orang terpercaya. Ibnu Qudamah bertanya lagi: Apakah engkau meriwayatkan hadis dari Mubasysyir? Ahmad bin Hanbal menjawab: Ya. Saya mendapatkan riwayat dari Mubasysyir bin Abdirrahman dari ayahnya, bahwa ayahnya berpesan agar setelah dimakamkan dibacakan di dekat kepalanya dengan pembukaan al-Baqarah dan ayat akhirnya. Ayahnya berkata bahwa ia mendengar Ibnu Umar berwasiat seperti itu juga. Kemudian Imam Ahmad berkata kepada Ibnu Qudamah: Kembalilah, dan katakan pada lelaki tadi agar membacanya!" (al-Ruh, Ibnu Qoyyim, I/11)